Friday, 9 October 2015

Pelabuhanku
By Elviyasa Siregar


Suatu ketika seorang teman bertanya dengan suara merdu dan senyum lembut.
‘Apa yang kau inginkan dalam hidup ini?’ Ia berkata dengan penuh semangat.
‘Sungguh banyak sekali hingga bibirku tak mampu berucap satu persatunya’
‘Katakan padaku..’
‘ Aku ingin hidup bahagia bersama lentera ilmu yang terus menerus membimbingku.’
‘Selain itu apa lagi?’ Dia menyambung pertanyaannya.
‘Ya manusia normal..bersama lentera itu aku ingin membangun sejarah hidup yang luar biasa.’
Saat ini akulah sang pemilik pelabuhan besar, ada berbagai jenis  kapal-kapal kecil maupun besar yang merapat disetiap pagi dan petang harinya. Pelabuhanku menjadi titik berkumpul, tempat membentang usaha ribuan orang yang tengah merangkai tali temali kehidupan. Banyak sekali cerita serta pengalaman terurai bebas dari mulut manis para pengembara khususnya penggerak kapal-kapal indah itu. Semua hikayat tersimpan rapat dan hanya sesekali menggema bersama suara dentuman air asin dan gesekan pasir putih di tempat ini dimana kubentangkan sepasang sayap suteraku. Percayalah, semuanya terlihat sangat mempesona.
Akulah sang pemilik pelabuhan, akulah manusia dengan sejuta mimpi yang tak terlupakan.
Seandainya aku seorang nahkoda yang tak perlu kompas, akan ku bawa serta seluruh cinta yang melekat erat mengalir deras dalam setiap rongga pembuluh darah tubuhku. Akan ku ikat semuanya, semuanya tanpa terkecuali kemudian ku bawa pergi menjelajahi dunia, melintasi samudera Pasifik Utara, laut Karibia, teluk Meksiko. Ketika aku dan cintaku itu lelah maka kami akan berhenti, merapat pada pulau kecil nan suci yang bahkan wangi tanahnya sewangi tanah kering di musim kemarau yang tiba-tiba diguyur dinginnya air hujan. Kalau kata orang Jawa seperti bau anpo. Percayalah, semuanya terasa nikmat sekali.
Namun apa  yang akan kuraih jika sesuatu yang akan ku ikat dan kubawa itu belum benar-benar ada?
Bertahun-tahun aku mencari sesuatu itu, sesuatu yang dapat merangkap menjadi awak kapal yang setia membantu nahkodanya. Namun berkali kali pula  kapalku karam, lagi-lagi aku terperangkap masuk kedalam palung yang sama. Bendera yang sengaja aku kibarkan dengan bangga diatas dek kapalku ternyata tidak melambai bebas tertiup angin. Ia justru berkibar memberi sinyal panggilan pada kapal-kapal perompak, entahlah mungkin ia berharap aku terjerumus, terjatuh, mati lalu dibuang supaya dimakan pari. Aku letih.
Suatu hari aku berfikir, wahai pencipta alam semesesta apakah aku belum layak memiliki kisah Rose dan Jack di kehidupanku ini?
Sebuah titik terbentang tepat didepan bola mataku,  titik  petunjuk yang sedikit banyak ku simpulkan sebagai jawaban persetujuan atas pertanyaanku. Lalu aku belajar memahami diriku dengan mencari jawaban mengapa Rosa belum pantas disandingkan dengan Jaka.
Namun dalam pencarian itu aku lelah sekali. Aku putuskan meninggalkan perjalanan panjang mencari sesuatu yang melekat dalam darahku itu, aku menyerah. Aku sadar tujuan hidupku bukan hanya itu. Ku putuskan kembali merakit sejuta rencana yang akan ku lalui bersama aku dan rohku yang gila ini. Bismillah..Ku tinggalkan imajinasiku sebagai sang nahkoda kapal besar.
Toh cerita dan pengalaman yang dibawa berlayar selama ini tetap dapat membangkitkan semangat kehidupanku. Sekarang seluruh cinta dan perhatianku terpusat pada pelabuhan yang sedang aku rintis. Aku ingin ini semua berjalan sempurna, memiliki dampak yang baik untuk masa depanku dan seluruh orang yang bernaung padaku. Dalam langkahku yang masih goyah, aku melihat kebun indah yang ditumbuhi rimbunnya pepohonan pinus dan bunga-bunga liar yang sungguh cantik sekali. Ada sungai kecil yang membentang sebagai pembatas antara tempat dimana aku beridiri saat ini dengan kebun itu. Aku berjalan lunglai dituntun ribuan kupu-kupu yang terbang disisi kanan dan kiriku. Mereka ingin menerbangkanku melintasi sungai kecil itu, percayalah mereka benar-benar akan melakukannya. ‘Terimakasih aku bisa berjalan sendiri’ ungkapku dengan suara takjub..

Setelah aku menyelesaikan ceritaku kemudian teman tersebut datang mendekat, dilektakannya telapak tangan kanannya diatas kain  jlbab yang manutupi kepalaku, lalu ia berucap ‘Semoga semua berjalan sesuai apa yang telah kamu rencanakan, what nice planning..’

No comments:

Post a Comment